Apa yang Harus Diubah dari Pola Pikir Dokter dan Mahasiswa FK Indonesia?

 

Belajar dari Prof. DR. dr. H. Faried Anfasa Moeloek, SpOG

Pada beberapa waktu lalu, saya diberikan kesempatan dari Sekolah Kepemimpinan Fakultas Kedokteran di mana saya berada untuk belajar lebih lagi tentang isu kesehatan Indonesia sekarang ini. Pada kesempatan kali ini, kami belajar langsung dengan mantan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Prof. DR. dr. H. Faried Anfasa Moeloek, SpOG pada periode 1998-1999.

Saya dan teman-teman saya belajar banyak hal pada kesempatan itu, termasuk kesalahan-kesalahan maupun hal-hal yang kerap dilewati oleh tenaga kesehatan dan bahkan mahasiswa Fakultas Kedokteran di Indonesia. Selama ini, kami terlalu distigmakan dengan penyakit – obat, etiologi – tata laksana, yang telah diajarkan di FK kami. Akan tetapi, kita melewatkan untuk meninjau lebih lagi akar dari masalah kesehatan tersebut. Dengan meninjau akar masalah dan menggunakan prinsip menyelesaikan 1000 masalah dengan 3-5 solusi, kami dapat melihat masalah kesehatan dengan lebih holistik dan dapat menyelesaikan masalah kesehatan tersebut dengan lebih baik lagi.

Sebagai contoh, Prof. Farid Moeloek memberikan kita 2 contoh isu kesehatan di Indonesia yang sampai sekarang masih sulit ditanggulangi. Pertama, tuberkulosis (TBC). TBC merupakan menyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang tidak hanya dapat menginfeksi paru-paru manusia dan menyebabkan TBC paru-paru, tetapi juga organ-organ lainnya, seperti … Ketika kami ditanya, apa yang dapat kami lakukan untuk mengobati masalah tersebut. Jujur, hal yang pertama kali terlintas dalam benak kami adalah untuk memberi pasien tersebut obat … Akan tetapi, hal tersebut SALAH BESAR. Kami hanya mengobati yang sakit, menanggulangi masalah secara akut. Bagaimana secara kronisnya? Masih akan banyak pasien datang ke dokter Indonesia dengan masalah TBC. Di sini kami ditegunkan kembali, obat TBC merupakan “Kemakmuran Rakyat”, pendekatan multidisiplin harus dilaksanakan untuk menanggulangi masalah ini, termasuk bagian pengolah lingkungan untuk menjadikan Indonesia ini tempat yang lebih ramah lingkungan, bebas dari TBC.

Bagaimana dengan angka kematian ibu dan bayi yang masih tinggi di Indonesia? Apa yang sebenarnya salah dari sistem di Indonesia? Apakah karena pelayanan antenatal yang sering diabaikan si Ibu? Ternyata, pelayanan antenatal tidak sesignifikan itu untuk menurunkan mortalitas ibu dan bayi. Kami berpikir dan berpikir. Lalu kami diingatkan kembali dengan status pendidikan yang masih rendah di kaum hawa Indonesia. Memang, perempuan yang berpendidikan itu dapat lebih berpikir, bahwa 4 “toos – too young, too many, too frequent, too old” merupakan faktor-faktor yang cukup berkontribusi tinggi dalam mortalitas ibu dan anak. Ditambah lagi dengan nutrisi yang kurang dikonsumsi oleh Ibu karena tingkat ekonomi yang tidak sepadan dengan pengeluaran keluarganya (terlalu banyak mulut untuk diberikan makanan).

Dokter-dokter di Indonesia seharusnya memiliki pemikiran yang holistik seperti itu juga sehingga pembangunan negara ini dapat terlaksanakan dengan lancar dan efektif. Sementara itu, mahasiswa-mahasiswa FK di Indonesia juga sudah sepantasnya belajar berpikir secara holistik seperti itu juga karena seperti yang kita tahu, masa depan bangsa ada di tangan kaum-kaum muda.

Demikian pikiran hasil inspirasi saya setelah berbincang-bincang dengan beliau. Saya berterima kasih kepada para pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk membaca sepatah kata dari saya. Saya mohon maaf jika ada kesalahan pada konten maupun kata-kata.

#UntukIndonesiayangLebihBaik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s